Auto refresh 30 detik

Lingkungan Hidup

Kalimantan Diguyur Hujan, Petugas Karhutla Sujud Syukur Setelah Berbulan-bulan Berjuang

Selasa, 27 Oktober 2026 18:29
Administrator
632 views
Gambar Kalimantan Diguyur Hujan, Petugas Karhutla Sujud Syukur Setelah Berbulan-bulan Berjuang - hujan kalimantan petugas ...
Gambar Kalimantan Diguyur Hujan, Petugas Karhutla Sujud Syukur Setelah Berbulan-bulan Berjuang - hujan kalimantan petugas ...

Hujan yang turun di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah membawa kelegaan bagi relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan. Di tengah perjuangan melawan api dan kabut asap, guyuran hujan menjadi harapan baru bagi petugas dan masyarakat.

KALIMANTAN — Suasana haru menyelimuti perjuangan para relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ketika hujan deras akhirnya mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, sejumlah relawan terlihat melakukan sujud syukur saat hujan turun di tengah perjuangan memadamkan kebakaran lahan. Momen tersebut menjadi gambaran betapa berharganya hujan setelah berbulan-bulan menghadapi kondisi kering dan ancaman api.

Peristiwa ini bukan sekadar momen emosional. Bagi para petugas yang setiap hari berhadapan dengan panas, asap, dan medan pemadaman yang sulit, hujan memberikan harapan untuk membantu mengurangi kobaran api sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan yang terdampak karhutla.

Ketua Bumi Selamat Rescue (Buser) 690, Hasan Hamdan, mengatakan para relawan telah berjibaku menghadapi karhutla selama sekitar empat bulan. Karena itu, turunnya hujan menjadi momen yang sangat dinantikan oleh mereka yang terlibat langsung dalam pemadaman.

Ia menyebut hujan tersebut sebagai salah satu bentuk kemenangan bagi para relawan karena dapat membantu pekerjaan pemadaman yang selama ini dilakukan di tengah kondisi kering. Informasi tersebut disampaikan Hasan kepada detikKalimantan pada Senin, 26 Oktober 2026.

Hujan Kalimantan, Kelegaan Setelah Berbulan-bulan Berjibaku dengan Api

Hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Banjar pada Minggu, 25 Oktober 2026, menjadi perhatian setelah sejumlah petugas terlihat bersyukur di tengah kegiatan pemadaman. Di kawasan Martapura, hujan dilaporkan turun dengan intensitas tinggi selama sekitar 20 menit.

Bagi masyarakat yang berbulan-bulan menghadapi udara berasap, hujan tersebut membawa perubahan yang sangat berarti. Selain berpotensi membantu membasahi lahan yang terbakar, air hujan juga diharapkan mengurangi kekeringan yang memengaruhi sumber air dan lahan pertanian.

Warga Martapura, Devi Farah, berharap hujan tidak hanya turun sekali, tetapi berlanjut agar dampak kekeringan dan kabut asap dapat berkurang. Ia juga berharap persediaan air di sumur warga dan kebutuhan air untuk persawahan dapat kembali terbantu.

Hujan juga dilaporkan mengguyur Banjarbaru dan Banjarmasin pada Minggu hingga Senin. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah Kalimantan telah terbebas dari kekeringan maupun kebakaran.

Di Kalimantan Tengah, hujan deras turut mengguyur Palangka Raya pada Senin dini hari, sekitar pukul 03.00 hingga 05.00 WIB. Setelah hujan turun, kabut asap di sejumlah kawasan ibu kota provinsi tersebut dilaporkan mulai menipis dan jarak pandang berangsur membaik.

Perubahan ini memberikan sedikit kelegaan bagi warga yang sebelumnya harus menjalani aktivitas di tengah gangguan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Hujan Kalimantan Petugas Karhutla Sujud Syukur menyambut.

Sujud Syukur Petugas Karhutla, Gambaran Beratnya Perjuangan di Lapangan

Sujud syukur para relawan menjadi potret perjuangan petugas yang sering kali tidak terlihat sepenuhnya oleh masyarakat. Di balik penanganan karhutla, terdapat pekerjaan berat yang menuntut tenaga, kesiapan peralatan, dan ketahanan fisik untuk menghadapi panas serta asap.

Ketika hujan turun, rasa syukur tersebut muncul karena alam memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan dalam proses pemadaman. Namun, hujan tetap harus dipahami sebagai faktor pendukung, bukan pengganti seluruh upaya penanggulangan kebakaran.

Api yang membakar permukaan lahan mungkin lebih mudah dikendalikan setelah terkena hujan. Akan tetapi, pada kawasan dengan tanah gambut yang mengering, bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali memicu kebakaran ketika kondisi kembali panas.

Karena itu, petugas tetap perlu melakukan pemeriksaan setelah hujan, memastikan tidak ada titik api tersisa, serta mengawasi lokasi yang berpotensi kembali terbakar. Pemadaman lanjutan dan patroli tetap dibutuhkan, terutama di kawasan yang sebelumnya mengalami kebakaran berulang.

BMKG Perkuat Modifikasi Cuaca, Potensi Hujan Masih Dipantau

Momentum hujan di Kalimantan juga berlangsung ketika pemerintah memperkuat operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan karhutla. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, pada Senin, 26 Oktober 2026, menyampaikan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan di Kalimantan Tengah cukup tinggi hingga lima hari berikutnya.

Dalam operasi tersebut, sembilan pesawat dikerahkan untuk mendukung kegiatan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sedangkan enam pesawat lainnya beroperasi di Sumatra Selatan. Dengan demikian, total 15 pesawat dilibatkan dalam upaya meningkatkan peluang hujan di wilayah sasaran.

Operasi ini melibatkan koordinasi sejumlah instansi, termasuk BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan TNI.

Namun, potensi pertumbuhan awan hujan tidak otomatis menjamin hujan turun merata di seluruh Kalimantan. Hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang sesuai, serta karakteristik cuaca di setiap wilayah.

Masyarakat perlu tetap memantau prakiraan cuaca resmi dan perkembangan penanganan karhutla. Hujan yang telah turun di beberapa lokasi merupakan perkembangan positif, tetapi kondisi di daerah lain harus dinilai berdasarkan pengamatan lapangan dan data yang tersedia.

Hujan Saja Tidak Cukup, Pencegahan Karhutla Harus Berlanjut

Di balik rasa syukur atas turunnya hujan, persoalan mendasar karhutla tetap perlu mendapat perhatian. Pencegahan pembakaran lahan, pengawasan kawasan rawan, kesiapan petugas, dan penanganan sumber kebakaran harus berjalan secara berkelanjutan.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwa laporan titik api ditindaklanjuti dengan cepat. Masyarakat dapat membantu dengan tidak membuka lahan menggunakan api serta segera melaporkan kebakaran kepada petugas setempat.

Bagi warga yang masih menghadapi kabut asap, kewaspadaan terhadap kualitas udara juga tetap penting. Hujan dapat membantu mengurangi partikel di udara, tetapi kondisi kualitas udara perlu dipantau sebelum masyarakat menyimpulkan bahwa situasi sudah kembali aman.

Momen sujud syukur para relawan di Kalimantan Selatan menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan sekadar persoalan teknis. Ada tenaga, waktu, dan risiko yang harus dihadapi petugas demi melindungi lingkungan serta keselamatan masyarakat.

Hujan memang membawa harapan baru. Namun, keberhasilan sesungguhnya baru terlihat ketika titik api benar-benar padam, kabut asap berkurang secara berkelanjutan, dan masyarakat dapat kembali beraktivitas tanpa terus dibayangi ancaman kebakaran.

Hujan Kalimantan Petugas Karhutla Sujud Syukur menyambutnya. Bagi para petugas karhutla, hujan adalah pertolongan yang dinantikan. Bagi Kalimantan, hujan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pencegahan agar perjuangan serupa tidak terus berulang setiap musim kering.