Auto refresh 30 detik

Lingkungan Hidup

OMC Kalimantan Semai 10,8 Ton Garam dan Dry Ice, Upaya Redam Karhutla dan Kabut Asap

Jumat, 30 Oktober 2026 22:31
Administrator
209 views
Gambar OMC Kalimantan Semai 10,8 Ton Garam dan Dry Ice, Upaya Redam Karhutla dan Kabut Asap - omc kalimantan semai garam dan
Gambar OMC Kalimantan Semai 10,8 Ton Garam dan Dry Ice, Upaya Redam Karhutla dan Kabut Asap - omc kalimantan semai garam dan

TEROPONGKALIMANTAN.COM | LINGKUNGAN | 30 OKTOBER 2026

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali diintensifkan di wilayah Kalimantan. TNI bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sejumlah instansi terkait melaksanakan penyemaian sebanyak 10,8 ton bahan semai berupa garam atau natrium klorida (NaCl) dan dry ice (es kering), Kamis (29/10/2026).

Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus mengurangi dampak kabut asap yang masih menjadi ancaman bagi masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan.

Namun, besarnya bahan semai yang dikerahkan melalui operasi udara bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penanganan karhutla. Efektivitas hujan buatan, penurunan konsentrasi polutan, pemadaman titik api, hingga perlindungan kesehatan masyarakat tetap menjadi indikator penting yang harus diperhatikan.

Berdasarkan informasi pelaksanaan operasi yang disampaikan melalui Pusat Penerangan TNI, total 10,8 ton bahan semai tersebut terdiri atas 8,4 ton garam dan 2,4 ton dry ice.

Penyemaian garam dilakukan menggunakan tiga jenis pesawat, yakni Hercules C-130, CN-295, dan Cassa-212. Pesawat Hercules C-130 membawa 4,8 ton garam dalam satu kali penerbangan (sortie), sedangkan CN-295 mengangkut 2 ton dalam satu sortie.

Sementara itu, pesawat Cassa-212 melaksanakan dua sortie penerbangan dengan membawa total 2,4 ton garam.

Untuk bahan semai dry ice, penyebarannya dilakukan menggunakan pesawat Cassa-212 sebanyak tiga sortie penerbangan dengan total muatan mencapai 2,4 ton.

Pengerahan berbagai jenis pesawat tersebut menunjukkan bahwa operasi modifikasi cuaca membutuhkan dukungan logistik dan kemampuan udara yang tidak sedikit. Pelaksanaannya juga memerlukan koordinasi antara unsur militer, BMKG, serta lembaga penanggulangan bencana.

OMC Kalimantan Semai Garam dan Dry Ice

Penggunaan dua jenis bahan semai tersebut memiliki tujuan yang berbeda dalam mendukung penanganan kondisi atmosfer.

Garam atau natrium klorida (NaCl) digunakan dalam teknologi modifikasi cuaca untuk membantu proses pembentukan dan pertumbuhan awan hujan. Partikel garam berperan sebagai inti kondensasi sehingga dapat mendukung terbentuknya butiran air di dalam awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.

Sementara itu, dry ice atau karbon dioksida padat digunakan dalam pendekatan berbeda. Penyemaiannya ditujukan untuk membantu mengganggu lapisan inversi atmosfer yang dapat menyebabkan asap dan polutan terperangkap di dekat permukaan bumi.

Fenomena inversi atmosfer menjadi salah satu persoalan dalam penanganan kabut asap. Dalam kondisi tersebut, pergerakan udara secara vertikal terhambat sehingga asap hasil pembakaran lahan sulit terdispersi ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa penggunaan dry ice menjadi salah satu pendekatan untuk membantu mengatasi kondisi atmosfer tersebut, terutama ketika ketersediaan awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas.

Hujan Mulai Turun di Sejumlah Wilayah Kalimantan

Pelaksanaan OMC tersebut berlangsung di tengah upaya pemerintah mengatasi dampak karhutla yang terjadi di sejumlah kawasan Kalimantan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari laporan operasi TNI dan data BMKG, hujan telah mengguyur sejumlah wilayah, di antaranya Mahakam, Balikpapan, Bontang, Bengkayang, Kubu Raya, Pontianak, Singkawang, Kotabaru, Malinau, Lamandau, dan Kotawaringin.

Turunnya hujan di sejumlah daerah diharapkan dapat membantu membasahi lahan yang mengering, meningkatkan kelembapan permukaan tanah, serta mengurangi konsentrasi asap di beberapa kawasan terdampak.

Meski demikian, hujan yang turun tidak otomatis berarti seluruh persoalan karhutla telah selesai. Kondisi setiap wilayah berbeda, terutama pada kawasan gambut yang memiliki karakteristik penyimpanan air dan potensi kebakaran di bawah permukaan tanah.

Karena itu, pemantauan terhadap titik panas (hotspot), titik api, kondisi lahan gambut, curah hujan, serta kualitas udara tetap diperlukan.

Sebelumnya, BMKG juga melaporkan bahwa pelaksanaan modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah dilakukan dengan pemantauan intensif terhadap jarak pandang, konsentrasi partikulat PM2.5, profil atmosfer, dan sebaran hujan.

Data pemantauan tersebut menjadi dasar untuk mengevaluasi apakah operasi memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan di wilayah sasaran.

Kabut Asap Bukan Sekadar Persoalan Jarak Pandang

Salah satu persoalan serius akibat karhutla adalah dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.

Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berpotensi memperburuk gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki kerentanan kesehatan.

Ketika jarak pandang menurun, dampaknya juga meluas ke sektor transportasi. Aktivitas penerbangan, perjalanan darat, distribusi barang, hingga kegiatan ekonomi masyarakat dapat terganggu.

Dalam situasi seperti ini, OMC menjadi salah satu instrumen penanganan darurat yang dapat membantu memperbaiki kondisi atmosfer. Akan tetapi, upaya tersebut perlu berjalan bersama tindakan langsung di lapangan.

Pemadaman titik api, pembasahan lahan gambut, patroli kawasan rawan kebakaran, penegakan hukum, dan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan harus tetap menjadi prioritas.

Masyarakat juga membutuhkan informasi kualitas udara yang mudah diakses agar dapat mengambil langkah perlindungan ketika konsentrasi polutan meningkat.

Jangan Sampai OMC Menjadi Solusi Sesaat

Besarnya pengerahan bahan semai dan armada pesawat memperlihatkan keseriusan operasi penanganan karhutla. Namun, publik juga berhak mengetahui sejauh mana efektivitas penggunaan anggaran, logistik, dan sumber daya negara dalam kegiatan tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.

Pertama, berapa luas kawasan yang berhasil dibasahi melalui hujan hasil OMC? Kedua, bagaimana perubahan jumlah titik panas sebelum dan sesudah operasi? Ketiga, apakah konsentrasi PM2.5 dan tingkat kabut asap mengalami penurunan yang terukur? Keempat, apakah titik api di kawasan gambut benar-benar berhasil dipadamkan?

Pertanyaan tersebut penting karena keberhasilan operasi tidak cukup hanya dilaporkan berdasarkan jumlah tonase garam dan dry ice yang disemai atau jumlah penerbangan yang dilaksanakan.

Hasilnya perlu dibandingkan dengan data pengamatan sebelum dan sesudah operasi, termasuk mempertimbangkan hujan alami dan perubahan kondisi atmosfer.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memperkuat pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang setiap musim kemarau. Penanganan sumber kebakaran, pengawasan perusahaan pemegang izin, serta penindakan terhadap pembakaran lahan harus dilakukan secara konsisten.

Jika penyebab kebakaran tidak ditangani, operasi modifikasi cuaca berisiko terus menjadi langkah berulang setiap kali kabut asap muncul.

Penanganan Karhutla Harus Menyentuh Akar Masalah

Kalimantan memiliki kawasan gambut, hutan tropis, dan bentang lahan yang membutuhkan pengelolaan serta perlindungan jangka panjang. Karena itu, penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman ketika kebakaran sudah meluas.

Pemerintah perlu memastikan seluruh instrumen penanganan berjalan beriringan, mulai dari teknologi modifikasi cuaca, kesiapan personel pemadam, pengawasan kawasan konsesi, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

OMC Kalimantan Semai 10,8 Ton Garam dan Dry Ice merupakan bagian dari upaya menghadapi ancaman karhutla dan kabut asap. Namun, ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah ketika masyarakat kembali menghirup udara bersih, lahan gambut terlindungi, titik api terkendali, dan kebakaran tidak terus berulang setiap tahun.

Jangan sampai masyarakat hanya disuguhi laporan tonase bahan semai dan aktivitas penerbangan, sementara persoalan mendasar yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan belum terselesaikan.

keyword: OMC Kalimantan Semai Garam dan Dry Ice