Auto refresh 30 detik

Lingkungan Hidup

Hotspot Turun, Tapi Kabut Asap Belum Hilang: Kalimantan Masih Waspada Karhutla

Minggu, 06 September 2026 22:15
Editor Utama
2,612 views
Gambar Hotspot Turun, Tapi Kabut Asap Belum Hilang: Kalimantan Masih Waspada Karhutla - hotspot turun tapi kabut asap
Gambar Hotspot Turun, Tapi Kabut Asap Belum Hilang: Kalimantan Masih Waspada Karhutla - hotspot turun tapi kabut asap

TEROPONG KALIMANTAN β€” Klaim bahwa kondisi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan mulai membaik memang memiliki dasar. Data terbaru pemerintah menunjukkan jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi mengalami penurunan di sejumlah wilayah hotspot turun tapi kabut asap.

Namun, penurunan hotspot tidak otomatis berarti ancaman kabut asap telah berakhir hotspot turun tapi kabut asap.

Data resmi Kementerian Kehutanan per 6 September 2026 menunjukkan masih terdapat 558 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional, berdasarkan pemantauan satelit pada 5 September. Angka tersebut turun 260 titik dibandingkan 818 hotspot pada 4 September.

Di Kalimantan, kondisi masih membutuhkan perhatian. Kalimantan Tengah mencatat 178 hotspot high confidence, sedangkan Kalimantan Barat mencatat 54 titik dan Kalimantan Selatan 14 titik pada pemantauan 5 September pukul 21.05 WIB.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas penanganan karhutla pemerintah. Kementerian Kehutanan menegaskan operasi pengendalian tetap dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas dan menekan dampak asap terhadap masyarakat.

Asap Masih Terpantau di Kalimantan Barat

Salah satu fakta yang menunjukkan bahwa kondisi belum sepenuhnya aman terlihat di Kalimantan Barat.

Kementerian Kehutanan menyebut hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada malam 4 September membantu membasahi sebagian wilayah Kalimantan Barat. Dampaknya, hotspot high confidence turun cukup signifikan, dari 124 titik pada 4 September menjadi 54 titik pada 5 September.

Namun pemerintah juga mengingatkan bahwa hujan belum terjadi secara merata. Di sejumlah lokasi, asap masih terpantau sehingga operasi pembasahan, patroli, pendinginan dan pengecekan lapangan tetap dilakukan.

Data BMKG yang dikutip dalam laporan Kementerian Kehutanan menunjukkan kondisi yang cukup mencolok. Pada malam 5 September, jarak pandang di Pontianak hanya sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap.

Lebih jauh, di Putussibau, jarak pandang tercatat sekitar 1 kilometer dan juga berasap.

Artinya, meskipun jumlah hotspot mengalami penurunan, masyarakat di beberapa wilayah Kalimantan Barat masih harus menghadapi dampak asap dan penurunan jarak pandang.

BMKG sendiri dalam prakiraan sepekan 4–10 September menyebut Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak berdasarkan pemantauan 2 September, yaitu 463 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi panas dan relatif kering masih menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko karhutla.

BNPB Masih Menetapkan Kalimantan sebagai Wilayah Prioritas

Indikator lainnya terlihat dari langkah Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB.

Dalam laporan perkembangan situasi dan penanganan karhutla tanggal 5 September, BNPB masih memasukkan Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat sebagai tiga dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla.

Untuk Kalimantan Tengah, status Siaga Darurat karhutla masih berlaku hingga 31 Oktober 2026. Sejumlah kabupaten dan kota juga masih memiliki status penanganan karhutla.

Sementara Kalimantan Selatan menetapkan status Siaga Darurat karhutla dan kekeringan sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026.

Di Kalimantan Barat, status Siaga Darurat karhutla tingkat provinsi berlaku sejak 2 Februari hingga 15 November 2026. BNPB juga mencatat adanya status tanggap darurat karhutla tingkat provinsi hingga 6 September. Penanganan mencakup sejumlah wilayah, termasuk Kubu Raya dan Mempawah.

BNPB juga masih memperkuat operasi penanganan melalui pemadaman darat, patroli udara, pendinginan dan operasi modifikasi cuaca sesuai kondisi lapangan.

Barito Utara Catat 182 Kejadian Karhutla

Di Kalimantan Tengah, situasi di Kabupaten Barito Utara juga menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum selesai.

Pemerintah Kabupaten Barito Utara melaporkan hingga 31 Agustus 2026 terdapat 182 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 124,19 hektare.

Pemantauan juga mendeteksi 405 hotspot di wilayah tersebut.

Barito Utara masih berada dalam status Siaga Darurat Karhutla yang ditetapkan mulai 1 Agustus hingga 29 September 2026. Pemerintah daerah juga telah menerbitkan instruksi larangan pembakaran hutan dan lahan.

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun kondisi di sejumlah daerah membaik setelah hujan, risiko kebakaran masih nyata.

Udara Kabur Masih Diprakirakan

Bukti lainnya datang dari prakiraan BMKG untuk wilayah perairan Pontianak–Mempawah.

Pada 6 September, BMKG memprakirakan kondisi udara kabur sepanjang hari di kawasan tersebut. Prakiraan berlaku mulai pukul 00.00 pada 6 September hingga 9 September 2026.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penurunan hotspot harus dibaca bersama indikator lainnya, seperti kualitas udara, jarak pandang, kondisi cuaca dan keberadaan asap di permukaan.

Kementerian Kehutanan sendiri menegaskan bahwa hotspot hanyalah indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Karena itu, setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi lapangan atau ground check.

Belum Tepat Menyebut Kalimantan Sepenuhnya Aman

Dari rangkaian data tersebut, kondisi karhutla di Kalimantan memang menunjukkan perkembangan positif di sejumlah wilayah, terutama setelah hujan membantu membasahi lahan.

Tetapi menyebut seluruh Kalimantan sudah aman dari karhutla dan kabut asap masih terlalu dini.

Hotspot masih ditemukan dalam jumlah signifikan, operasi penanganan masih berjalan, status siaga darurat masih berlaku di sejumlah daerah, dan yang paling penting, asap masih terpantau di beberapa lokasi dengan jarak pandang yang rendah.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak tetap disarankan mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan jarak pandang, mengurangi aktivitas luar ruangan apabila kondisi udara memburuk, serta tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar.

Kondisi karhutla saat ini lebih tepat disebut membaik tetapi belum sepenuhnya aman.

Dan satu hal yang perlu digarisbawahi: turunnya hotspot adalah kabar baik, tetapi bukan tanda bahwa ancaman asap dan karhutla telah berakhir.