Auto refresh 30 detik

Ekonomi

Jalan Kalbar Rusak, Ekonomi Tumbuh tetapi Biaya Rakyat Masih Mahal

Selasa, 15 September 2026 16:20
Editor Utama
322 views
Gambar Jalan Kalbar Rusak, Ekonomi Tumbuh tetapi Biaya Rakyat Masih Mahal - jalan kalbar rusak bbm masyarakat
Gambar Jalan Kalbar Rusak, Ekonomi Tumbuh tetapi Biaya Rakyat Masih Mahal - jalan kalbar rusak bbm masyarakat

TEROPONG KALIMANTAN — Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat terus menunjukkan angka positif, tetapi kualitas infrastruktur jalan masih menjadi pekerjaan besar yang menentukan apakah pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat hingga ke desa-desa. Pada triwulan II 2026, ekonomi Kalimantan Barat tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), sementara pada triwulan IV 2025 pertumbuhan mencapai 5,62 persen. Angka tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi bergerak, tetapi pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti biaya hidup dan biaya distribusi masyarakat ikut turun.

Masalahnya terletak pada konektivitas. Jalan bukan sekadar hamparan aspal yang menghubungkan satu kecamatan dengan kecamatan lain. Bagi masyarakat pedesaan, jalan adalah jalur utama untuk membawa hasil kebun ke pasar, mengangkut bahan pangan, pergi ke sekolah, mengakses layanan kesehatan, membeli kebutuhan rumah tangga hingga mendapatkan BBM.

Ketika jalan rusak, masyarakat sebenarnya membayar lebih mahal untuk setiap perjalanan. Biayanya tidak selalu terlihat sebagai pungutan langsung, tetapi muncul melalui konsumsi BBM yang lebih tinggi, waktu tempuh yang bertambah, kendaraan lebih cepat rusak, ongkos angkutan meningkat dan harga barang ikut terdorong.

Jalan Kalbar Rusak BBM Masyarakat Pedesaan Ikut Membengkak

Data Kementerian Keuangan yang mengacu pada kondisi jalan nasional menunjukkan jaringan jalan nasional di Kalimantan Barat sepanjang sekitar 2.287,52 kilometer pada 2025. Sebanyak 47,27 persen berada dalam kondisi baik dan 50,14 persen dalam kondisi sedang, sedangkan 2,41 persen rusak ringan dan 0,18 persen rusak berat.

Namun persoalan tidak berhenti pada jalan nasional. Jalan provinsi dan kabupaten memiliki peran sangat besar dalam menghubungkan pusat produksi dengan jalan utama. Bahkan, pemerintah sendiri mengakui keterbatasan anggaran membuat penanganan jalan provinsi harus dilakukan secara bertahap dan diprioritaskan pada ruas yang rusak berat serta memiliki fungsi strategis terhadap pergerakan ekonomi.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pada 2026 juga telah merencanakan peningkatan sejumlah ruas, termasuk Bengkayang–Batas Kabupaten Bengkayang/Landak, Semitau–Suhaid, Sukadana–Teluk Batang, Tumbang Titi–Tanjung, Pesaguan–Kendawangan, hingga sejumlah ruas di Sintang, Sekadau dan wilayah lainnya.

Persoalannya adalah bagaimana menghitung manfaat pembangunan tersebut bukan hanya dari panjang jalan yang selesai dibangun, tetapi dari berapa biaya yang dapat dihemat masyarakat setelah jalan membaik.

Jalan Kalbar Rusak, Penghematan BBM Bisa Menjadi Keuntungan Langsung Warga

Ada hubungan nyata antara kualitas permukaan jalan dan konsumsi bahan bakar. Penelitian terbaru menunjukkan rehabilitasi permukaan jalan dapat menurunkan konsumsi BBM sekitar 10 persen dalam kondisi penelitian tertentu. Studi lain mengenai jalan di negara berkembang juga menunjukkan kualitas permukaan jalan berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar, waktu tempuh dan biaya operasional kendaraan.

Angka tersebut dapat digunakan sebagai ilustrasi perhitungan, bukan sebagai klaim bahwa seluruh ruas jalan Kalbar otomatis menghasilkan penghematan 10 persen.

Misalnya seorang warga desa menggunakan sepeda motor untuk perjalanan pulang-pergi sekitar 30 kilometer per hari, selama 25 hari dalam sebulan. Dengan asumsi kendaraan mengonsumsi 1 liter untuk 40 kilometer, kebutuhan BBM sekitar 0,75 liter per hari atau 18,75 liter per bulan.

Jika perbaikan jalan menghasilkan efisiensi BBM 10 persen, kebutuhan tersebut secara sederhana turun sekitar 1,875 liter per bulan.

Dengan asumsi harga BBM Rp10.000 per liter, penghematan mencapai sekitar Rp18.750 per bulan atau Rp225.000 per tahun untuk satu sepeda motor.

Nilainya mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Tetapi di pedesaan, Rp225.000 setahun bisa berarti pembelian kebutuhan rumah tangga, tambahan biaya pendidikan anak, pulsa komunikasi, atau modal kecil untuk usaha.

Skalanya berubah ketika jumlah pengguna dihitung.

Jika terdapat 10.000 pengguna kendaraan dengan pola perjalanan yang sama, potensi penghematan secara ilustratif mencapai Rp2,25 miliar per tahun. Ini belum memasukkan penghematan biaya servis, ban, suku cadang dan waktu perjalanan.

Untuk kendaraan pengangkut hasil pertanian, dampaknya bahkan dapat lebih besar. Kendaraan yang membawa hasil kebun, sembako atau komoditas desa memiliki jarak tempuh dan beban yang berbeda. Karena itu, setiap penurunan konsumsi BBM akan langsung memengaruhi ongkos distribusi.

Jalan Kalbar Rusak Menekan Ekonomi Masyarakat Desa

Masalah jalan pada akhirnya menjadi masalah ekonomi. Jalan buruk membuat petani atau pedagang harus mengeluarkan lebih banyak biaya hanya untuk memindahkan barang dari titik produksi menuju pasar.

Hasil penelitian mengenai jalan di Indonesia juga menemukan bahwa peningkatan kualitas jalan berkaitan dengan peningkatan konsumsi per kapita, pendapatan tenaga kerja dan munculnya aktivitas usaha baru. Penelitian tersebut memperkirakan peningkatan kualitas jalan sebesar 1 persen berkaitan dengan kenaikan konsumsi per kapita, sementara simulasi pembangunan jalan menunjukkan manfaat ekonomi yang dapat melampaui biaya pembangunan pada wilayah tertentu.

Artinya, pembangunan jalan tidak seharusnya dihitung hanya sebagai belanja modal pemerintah. Jalan merupakan instrumen untuk menurunkan biaya ekonomi masyarakat.

Ketika jalan membaik, kendaraan tidak perlu terlalu sering mengerem dan mempercepat laju karena lubang. Waktu tempuh dapat berkurang, konsumsi BBM lebih efisien, kerusakan kendaraan menurun dan distribusi barang menjadi lebih lancar.

Efek berantainya masuk ke harga komoditas.

Petani memperoleh peluang membawa hasil produksi ke pasar dengan biaya lebih rendah. Pedagang dapat mengambil barang lebih cepat. Konsumen desa memperoleh akses terhadap barang dengan ongkos distribusi yang lebih rendah. Pemerintah daerah pun memperoleh keuntungan tidak langsung berupa aktivitas ekonomi yang semakin hidup.

Pembangunan Jalan Harus Diukur dari Dampaknya

Pemerintah Kalimantan Barat telah menempatkan konektivitas sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi. Pemprov juga menargetkan peningkatan jalan mantap hingga 80 persen dalam lima tahun ke depan, meski tantangan pembiayaan masih besar.

Di sinilah ukuran keberhasilan pembangunan jalan perlu diperluas.

Jalan yang selesai dibangun memang penting, tetapi pertanyaan berikutnya adalah berapa kilometer perjalanan masyarakat yang menjadi lebih murah, berapa liter BBM yang dapat dihemat, berapa biaya angkutan hasil pertanian yang turun dan berapa waktu perjalanan yang berhasil dipangkas.

Sebab pembangunan infrastruktur yang benar-benar produktif bukan hanya membuat jalan terlihat baru dari atas kendaraan pejabat. Infrastruktur harus terasa manfaatnya dari dompet masyarakat yang lebih ringan.

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat yang berada di kisaran 5 persen lebih harus diikuti dengan penurunan biaya ekonomi di tingkat paling bawah. Jika jalan desa menuju sentra produksi masih rusak, pertumbuhan ekonomi berisiko lebih banyak terlihat dalam statistik daripada terasa di dapur rumah tangga.

Karena itu, pembangunan jalan Kalimantan Barat seharusnya ditempatkan sebagai investasi ekonomi sekaligus investasi energi. Setiap ruas jalan yang diperbaiki berpotensi mengurangi konsumsi BBM, menekan biaya kendaraan, mempercepat distribusi dan memperbesar nilai ekonomi yang dapat dipertahankan masyarakat.

Jalan yang baik bukan sekadar mempercepat kendaraan. Jalan yang baik membuat uang masyarakat tidak habis di jalan. jangan biarkan Jalan Kalbar Rusak BBM Masyarakat Pedesaan Ikut Membengkak