Auto refresh 30 detik

Kesehatan

Asap Karhutla Jangka Panjang Bisa Ganggu Fungsi Paru, Cukup Masker atau Perlu Evakuasi?

Minggu, 20 September 2026 19:22
Editor Utama
617 views
Gambar Asap Karhutla Jangka Panjang Bisa Ganggu Fungsi Paru, Cukup Masker atau Perlu Evakuasi? - asap karhutla dan risiko ...
Gambar Asap Karhutla Jangka Panjang Bisa Ganggu Fungsi Paru, Cukup Masker atau Perlu Evakuasi? - asap karhutla dan risiko ...

Asap Karhutla dan Risiko Fungsi Paru Masyarakat Kalimantan

TEROPONG KALIMANTAN β€” Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya membuat jarak pandang menurun atau udara terasa sesak. Di balik asap yang masuk ke rumah dan dihirup berulang kali, terdapat partikel halus PM2.5 serta berbagai polutan yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan hingga gangguan yang lebih serius, termasuk penurunan fungsi paru, bronkitis dan memburuknya asma. Partikel halus juga dapat menembus bagian dalam paru dan masuk ke aliran darah.

Sejumlah penelitian juga menemukan indikasi bahwa dampak terhadap fungsi paru tidak selalu berhenti ketika asap menghilang. Studi pada masyarakat yang terpapar asap kebakaran dengan konsentrasi PM2.5 tinggi menemukan penurunan fungsi paru yang masih terlihat satu hingga dua tahun setelah kejadian. Namun, temuan tersebut berasal dari populasi dan kondisi kebakaran tertentu sehingga tidak dapat secara otomatis diterapkan pada seluruh masyarakat terdampak karhutla.

Artinya, persoalan karhutla perlu dilihat bukan hanya sebagai masalah ketika asap terlihat, tetapi sebagai persoalan paparan yang durasinya perlu ditekan semaksimal mungkin.

Asap Karhutla Jangka Panjang, Risiko Tidak Berhenti Saat Batuk

WHO mencatat bahwa risiko kesehatan akibat asap kebakaran dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lama paparan, kondisi kesehatan seseorang dan kedekatannya dengan sumber kebakaran. Anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat dengan penyakit jantung atau paru termasuk kelompok yang lebih rentan.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga telah menempatkan anak-anak, lansia, ibu hamil serta penderita penyakit bawaan sebagai kelompok yang membutuhkan perlindungan ekstra ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

Data Kemenkes per 27 Agustus 2026 menunjukkan karhutla berdampak terhadap sekitar 10,67 juta penduduk di tujuh provinsi, dengan 13.449 kasus ISPA yang dilaporkan secara kumulatif dari 63 kabupaten/kota. Tujuh provinsi tersebut mencakup Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau dan Sumatera Selatan.

Angka tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh kasus ISPA disebabkan oleh asap karhutla. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa beban kesehatan muncul bersamaan dengan periode karhutla dan kualitas udara yang memburuk.

Asap Karhutla Jangka Panjang, Masker Bukan Satu-Satunya Perlindungan

Menggunakan masker tetap penting, tetapi masker bukan berarti masyarakat bebas dari paparan asap.

WHO merekomendasikan pengurangan aktivitas luar ruangan, perlindungan kualitas udara di dalam rumah dan mencari ruang dengan udara lebih bersih ketika kondisi asap berat. Jika harus berada di luar ruangan, masker respirator yang terpasang rapat seperti N95 atau FFP2 dapat membantu mengurangi paparan partikel.

Kemenkes pada Agustus 2026 juga menginstruksikan masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas luar ruangan, menutup rapat sirkulasi udara dari luar, menggunakan penyaring udara bila tersedia serta menggunakan respirator seperti N95 dalam kondisi yang sesuai.

Namun terdapat persoalan lain: tidak semua rumah mampu menjadi tempat perlindungan dari asap.

Rumah yang ventilasinya tidak dapat ditutup dengan baik, bangunan yang tidak memiliki pendingin atau penyaring udara, serta lingkungan dengan konsentrasi asap sangat tinggi membuat strategi β€œtetap di rumah” tidak selalu memberikan perlindungan yang sama.

Di sinilah pemerintah daerah perlu memiliki pilihan kedua berupa ruang udara bersih atau tempat perlindungan sementara.

Kapan Masyarakat Perlu Dievakuasi?

Evakuasi tidak otomatis diperlukan setiap kali kabut asap muncul.

Pedoman kesehatan masyarakat internasional membedakan antara ancaman langsung api dan paparan asap. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyebut alasan paling umum untuk evakuasi dalam kebakaran adalah ancaman langsung api terhadap keselamatan, sementara meninggalkan kawasan dengan asap sangat pekat dapat menjadi langkah perlindungan bagi kelompok berisiko.

Karena itu, keputusan evakuasi idealnya mempertimbangkan beberapa indikator sekaligus: jarak api dengan permukiman, arah dan kecepatan angin, konsentrasi polutan, durasi asap, kemampuan bangunan melindungi penghuni, kondisi kelompok rentan serta peringatan resmi pemerintah daerah.

Jika api mendekati permukiman, asap sangat pekat dan kondisi berubah cepat, prioritasnya bukan lagi sekadar memakai masker, tetapi mengikuti instruksi evakuasi.

Sebaliknya, apabila sumber api masih jauh tetapi asap menyebabkan kualitas udara buruk, pemerintah dapat mengutamakan pengurangan aktivitas luar ruangan, penutupan ventilasi dari luar, penyediaan ruang udara bersih dan perlindungan khusus bagi kelompok rentan.

Dari Masker Menuju Sistem Perlindungan Masyarakat

Persoalan terbesar dalam menghadapi karhutla bukan sekadar ketersediaan masker.

Yang dibutuhkan adalah sistem perlindungan berlapis.

Pertama, pemantauan kualitas udara harus dilakukan secara terus-menerus dan informasinya mudah dipahami masyarakat.

Kedua, ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, pemerintah harus segera mengurangi aktivitas yang meningkatkan paparan, termasuk kegiatan sekolah atau pekerjaan luar ruangan yang tidak mendesak.

Ketiga, kelompok rentan harus menjadi prioritas untuk mendapatkan akses menuju fasilitas dengan udara lebih bersih.

Keempat, fasilitas kesehatan harus siap menangani peningkatan keluhan pernapasan. Kemenkes pada Agustus 2026 telah memobilisasi tenaga kesehatan dan mendistribusikan masker, oksigen konsentrator serta logistik kesehatan ke wilayah terdampak.

Kelima, ketika kondisi tidak lagi aman bagi masyarakat, evakuasi harus menjadi bagian dari rencana sejak awal, bukan keputusan yang baru dibuat setelah warga mengalami sesak napas atau api sudah mendekati permukiman.

Karhutla Tidak Boleh Menunggu Warga Jatuh Sakit

Asap karhutla seharusnya diperlakukan sebagai ancaman kesehatan masyarakat, bukan sekadar gangguan sementara terhadap aktivitas sehari-hari.

Masker dapat mengurangi paparan ketika seseorang harus berada di luar ruangan. Tetapi masker tidak menghilangkan seluruh risiko, terlebih jika seseorang terus-menerus berada di lingkungan dengan konsentrasi asap tinggi.

Karena itu, pendekatan yang lebih rasional adalah mengurangi paparan sejak awal: pantau kualitas udara, batasi aktivitas luar ruangan, lindungi udara di dalam rumah, sediakan ruang udara bersih dan prioritaskan kelompok rentan.

Evakuasi kemudian menjadi salah satu instrumen ketika kondisi lingkungan atau ancaman kebakaran membuat bertahan di lokasi tidak lagi aman.

Bagi Kalimantan, persoalannya menjadi semakin penting. Karhutla terjadi berulang dan masyarakat di sejumlah wilayah dapat menghadapi paparan asap secara musiman. WHO sendiri menekankan bahwa dampak jangka panjang paparan berulang terhadap kelompok rentan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Maka, ukuran keberhasilan penanganan karhutla tidak seharusnya hanya dihitung dari berapa hektare lahan berhasil dipadamkan atau berapa banyak masker dibagikan.

Ukuran lainnya adalah apakah masyarakat berhasil dijauhkan dari paparan berbahaya sebelum jatuh sakit.

Jika asap sudah terlalu pekat untuk dihindari di dalam rumah, pertanyaannya bukan lagi sekadar β€œmasker sudah dibagikan atau belum”, tetapi apakah pemerintah sudah menyediakan tempat dengan udara yang lebih aman bagi masyarakat yang membutuhkan.

keyword: Asap Karhutla dan Risiko Fungsi Paru