Auto refresh 30 detik

Lingkungan Hidup

Dry Ice untuk Tangani Karhutla: Solusi Atasi Kabut Asap?

Selasa, 20 Oktober 2026 20:05
Administrator
437 views
Gambar Dry Ice untuk Tangani Karhutla: Solusi Atasi Kabut Asap? - dry ice untuk tangani karhutla
Gambar Dry Ice untuk Tangani Karhutla: Solusi Atasi Kabut Asap? - dry ice untuk tangani karhutla

Dry Ice untuk Tangani Karhutla, Solusi Baru atau Uji Teknologi yang Masih Perlu Pembuktian?

TEROPONGKALIMANTAN.COM — Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memasuki babak baru. Pemerintah mulai memanfaatkan dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengurai kabut asap yang terperangkap di atmosfer. Teknologi ini menjadi perhatian karena berpotensi membantu memperbaiki jarak pandang di tengah kondisi asap pekat, tetapi efektivitasnya tetap harus dibuktikan melalui pengukuran ilmiah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 20 Oktober 2026 mengumumkan pelaksanaan penyemaian dry ice melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurai kabut asap karhutla di Sumatra dan Kalimantan. Operasi ini melibatkan sejumlah instansi, termasuk BNPB, TNI, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sumber: BMKG.

Langkah tersebut menghadirkan alternatif dalam penanganan dampak karhutla, terutama ketika asap menumpuk di dekat permukaan tanah dan mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, serta penerbangan. Namun, penting dipahami bahwa penggunaan dry ice dalam operasi ini tidak sama dengan menyiram atau memadamkan api secara langsung.

Dry Ice untuk Tangani Karhutla, Bagaimana Cara Kerjanya?

Dry ice merupakan karbon dioksida (CO₂) dalam bentuk padat yang memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius pada tekanan atmosfer normal. Ketika menyublim, material ini berubah langsung dari padat menjadi gas tanpa melalui fase cair.

Dalam operasi modifikasi cuaca, dry ice dimanfaatkan untuk memengaruhi kondisi termal atmosfer. Sasaran utamanya adalah lapisan inversi, yaitu kondisi ketika profil suhu udara menghambat pergerakan vertikal sehingga asap dan polutan dapat tertahan di dekat permukaan.

Dalam kondisi tertentu, penyemaian dry ice dari pesawat diharapkan memicu pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan lapisan atmosfer. Jika kondisi mendukung, perubahan tersebut berpotensi membantu melemahkan lapisan inversi dan memungkinkan pencampuran udara secara vertikal, sehingga konsentrasi asap di dekat permukaan dapat berkurang.

BMKG menjelaskan bahwa pendekatan ini berbeda dari penyemaian awan konvensional yang bertujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan. Dry ice diarahkan untuk menangani kondisi atmosfer yang membuat asap sulit terurai, termasuk ketika awan yang memenuhi persyaratan untuk penyemaian hujan terbatas.

Meski demikian, perubahan atmosfer tidak terjadi secara otomatis hanya karena dry ice dilepaskan. Keberhasilannya bergantung pada profil suhu, kelembapan, ketebalan lapisan inversi, serta dinamika udara pada saat operasi berlangsung.

Uji Coba di Sumatra Menjadi Bahan Evaluasi

Sebelum pengumuman BMKG pada 20 Oktober, pemerintah telah melakukan uji coba penyemaian dry ice di Sumatra Selatan. Berdasarkan informasi BNPB yang dipublikasikan Kementerian Komunikasi dan Digital pada 16 Oktober 2026, operasi awal pada 15 Oktober menggunakan dua sorti penerbangan dengan masing-masing 800 kilogram bahan semai, sehingga total bahan yang digunakan mencapai 1.600 kilogram.

Laporan awal menyebutkan jarak pandang di sekitar wilayah sasaran meningkat dari kisaran 650 meter menjadi 2.800 meter. Operasi tersebut difokuskan di sekitar kawasan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, untuk membantu memperbaiki kondisi jarak pandang yang berpengaruh terhadap keselamatan penerbangan.

Namun, perubahan jarak pandang setelah operasi belum dengan sendirinya membuktikan bahwa dry ice menjadi satu-satunya penyebab perbaikan. Evaluasi perlu mempertimbangkan perubahan arah dan kecepatan angin, pergerakan massa udara, kondisi atmosfer, serta sumber asap yang masih aktif.

Karena itu, pengukuran sebelum dan sesudah operasi perlu dilakukan secara konsisten. Indikator yang relevan antara lain jarak pandang, konsentrasi partikulat halus PM2.5, profil suhu dan kelembapan vertikal, serta kondisi lapisan inversi.

BRIN Ingatkan Pentingnya Pembuktian Ilmiah

BRIN mendukung evaluasi ilmiah terhadap penggunaan dry ice untuk mengurangi dampak kabut asap. Dalam laporan ANTARA pada 19 Oktober 2026, Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, menekankan perlunya menguji apakah pendinginan lokal yang dihasilkan cukup kuat untuk memengaruhi lapisan inversi.

Kajian tersebut penting karena lapisan inversi dapat mencakup wilayah luas dengan tingkat kestabilan berbeda-beda. Gangguan suhu pada satu lokasi belum tentu cukup untuk mengubah kondisi atmosfer secara keseluruhan.

BRIN juga menekankan pentingnya data pengamatan atmosfer, termasuk pengukuran suhu pada berbagai ketinggian, kelembapan, ketebalan lapisan inversi, dan parameter kestabilan udara. Pengamatan sebelum, selama, dan setelah penyemaian diperlukan agar dampak operasi dapat dibandingkan secara objektif.

Dengan pendekatan tersebut, penggunaan dry ice tidak cukup dinilai berdasarkan laporan visual bahwa asap terlihat menipis. Data kualitas udara dan perubahan atmosfer harus menjadi dasar untuk menentukan apakah metode ini efektif, dalam kondisi seperti apa metode tersebut bekerja, serta seberapa besar manfaatnya dibandingkan dengan biaya operasional.

Dry Ice untuk Tangani Karhutla Bukan Pengganti Pemadaman

Ada persoalan mendasar yang perlu dibedakan dalam penanganan karhutla: mengurangi konsentrasi asap di atmosfer tidak sama dengan menghentikan kebakaran di sumbernya.

Ketika asap berhasil terurai atau berpindah akibat perubahan kondisi atmosfer, api di lahan yang terbakar belum tentu padam. Selama titik api masih aktif, pembakaran dapat terus menghasilkan asap baru dan kembali memperburuk kualitas udara, terutama ketika angin melemah atau atmosfer kembali stabil.

Persoalan ini menjadi semakin penting di lahan gambut. Api dapat menjalar dan membara di bawah permukaan, sehingga tidak selalu terlihat dari atas. Pemadaman memerlukan penanganan langsung, pembasahan yang memadai, pemeriksaan bara tersembunyi, serta pemantauan untuk mencegah api kembali menyala.

Karena itu, dry ice untuk mengatasi kabut asap seharusnya diposisikan sebagai salah satu instrumen pendukung, bukan sebagai pengganti patroli, pemadaman darat, operasi udara, pembasahan gambut, dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa penggunaan teknologi baru tidak mengalihkan perhatian dari pencegahan kebakaran. Pengawasan kawasan rawan, kesiapan personel, ketersediaan air, pemantauan titik panas, dan penindakan terhadap pelanggaran tetap menjadi bagian penting dari strategi penanganan karhutla.

Bagaimana Penerapannya untuk Kalimantan?

Bagi Kalimantan, pemanfaatan dry ice menarik untuk dikaji, khususnya ketika kabut asap mengganggu permukiman, fasilitas publik, dan jalur penerbangan. Namun, penerapannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan seragam untuk seluruh wilayah.

Karakteristik lahan gambut, pola angin, kelembapan, topografi, serta kondisi atmosfer setiap daerah berbeda. Teknologi yang memberikan hasil pada satu wilayah belum tentu menghasilkan dampak serupa di wilayah lain.

BMKG dan BRIN perlu memastikan bahwa operasi di Kalimantan didukung analisis meteorologi setempat, sasaran yang jelas, serta evaluasi yang dapat diperiksa publik. Pemerintah daerah juga perlu mendapatkan penjelasan mengenai tujuan operasi, indikator keberhasilan, biaya, dan batasan metode yang digunakan.

Informasi tersebut penting agar masyarakat dapat membedakan antara keberhasilan mengurangi dampak asap untuk sementara dan keberhasilan memadamkan sumber kebakaran secara menyeluruh.

Teknologi Baru Harus Diikuti Transparansi dan Pencegahan

Pemanfaatan dry ice menunjukkan adanya upaya mencari pendekatan tambahan untuk menghadapi persoalan karhutla. Inovasi patut didukung selama dilaksanakan secara terukur, aman, dan berbasis bukti ilmiah.

Akan tetapi, keberhasilan penanganan karhutla tidak seharusnya diukur hanya dari membaiknya jarak pandang selama beberapa jam atau hari. Pemerintah perlu menjelaskan apakah konsentrasi PM2.5 benar-benar turun, apakah kondisi tersebut bertahan, dan apakah sumber kebakaran di lapangan berhasil dikendalikan.

Transparansi juga diperlukan dalam penggunaan anggaran, evaluasi hasil, dan pemilihan lokasi operasi. Publik berhak mengetahui manfaat nyata dari teknologi yang digunakan, terutama ketika dampak karhutla berulang kali membebani kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Pada akhirnya, dry ice dapat menjadi salah satu opsi untuk membantu mengurangi kabut asap dalam kondisi atmosfer tertentu. Namun, perlindungan jangka panjang bagi masyarakat Kalimantan tetap bergantung pada kemampuan pemerintah mencegah kebakaran sejak awal, memadamkan api hingga tuntas, memulihkan lahan gambut, dan menegakkan hukum secara konsisten.

Teknologi dapat membantu mengatasi dampak karhutla, tetapi tanpa pencegahan dan pemadaman di sumbernya, kabut asap berisiko kembali muncul.