Auto refresh 30 detik

Lingkungan Hidup

Kekeringan Kalimantan Mengintai di Tengah Karhutla, Krisis Air Mulai Jadi Ancaman Baru

Selasa, 25 Agustus 2026 09:18
Editor Utama
441 views
Gambar Kekeringan Kalimantan Mengintai di Tengah Karhutla, Krisis Air Mulai Jadi Ancaman Baru - kekeringan kalimantan meng...
Gambar Kekeringan Kalimantan Mengintai di Tengah Karhutla, Krisis Air Mulai Jadi Ancaman Baru - kekeringan kalimantan meng...

Persoalan Kalimantan pada musim kemarau 2026 ternyata tidak berhenti pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di balik kepulan asap yang mulai menyeberang hingga wilayah Malaysia, muncul ancaman lain yang jauh lebih senyap: kekeringan Kalimantan.

Jika karhutla terlihat melalui api dan asap, kekeringan bekerja secara perlahan. Cadangan air menyusut, hari tanpa hujan semakin panjang, tanah dan vegetasi mengering, sementara kebutuhan air masyarakat tetap berjalan. Dalam kondisi seperti itu, satu persoalan dapat memperbesar persoalan lainnya.

Data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa ancaman tersebut bukan sekadar asumsi. Analisis Dasarian II Agustus 2026 mencatat El Niño berada pada intensitas sangat kuat, dengan nilai indeks Nino3.4 mencapai +2,99. Pada periode yang sama, BMKG memberikan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk kategori Siaga di sebagian besar Pulau Kalimantan.

Dengan kata lain, Kalimantan sedang menghadapi dua tekanan sekaligus: api yang membakar lahan dan kekeringan yang mengurangi cadangan air.

Kekeringan Kalimantan Mengintai Karhutla Kalimantan: Ancaman kekeringan Kalimantan menjadi semakin serius ketika hari tanpa hujan memanjang dan cadangan air mulai mengalami penurunan.

Bukan Hanya Api, Air Juga Mulai Menjadi Masalah

Kalimantan Timur menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai hubungan antara kekeringan dan karhutla.

Dalam siaran pers pada 25 Agustus 2026, BMKG menyebut wilayah Kalimantan Timur secara umum mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori Sangat Pendek hingga Panjang. Di Kabupaten Kutai Barat dan Paser, HTH bahkan mencapai 28 hari berturut-turut berdasarkan data per 20 Agustus 2026.

Situasi tersebut beriringan dengan persoalan ketersediaan air di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

BMKG menyebut cadangan air di Waduk Sepaku, yang menjadi sumber air baku bagi wilayah IKN, terus mengalami penurunan sejak Juli sebagai dampak El Niño. Karena itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan untuk membantu mengatasi defisit air sekaligus menangani ancaman karhutla.

Ini menjadi sinyal penting.

Ketika waduk harus mendapatkan perhatian khusus akibat berkurangnya cadangan air pada saat yang sama ketika kebakaran membutuhkan air dalam jumlah besar untuk pemadaman, pemerintah menghadapi persoalan yang tidak sederhana.

Air harus tersedia untuk masyarakat.

Air dibutuhkan untuk pertanian.

Air dibutuhkan untuk menjaga ekosistem.

Dan pada saat yang sama, air juga menjadi senjata utama untuk menghadapi karhutla.

Angka Titik Panas Kaltim Ikut Mengkhawatirkan

Tekanan kekeringan semakin terlihat ketika dibandingkan dengan perkembangan titik panas.

BMKG mencatat jumlah titik panas di Kalimantan Timur pada periode 1–23 Agustus 2026 mencapai 13.273 titik. Angka tersebut disebut meningkat 35,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015, ketika wilayah tersebut juga menghadapi puncak musim kemarau yang beriringan dengan El Niño.

Pemerintah Kalimantan Timur saat ini masih berada pada status Siaga Bencana untuk penanganan karhutla, belum meningkat menjadi Siaga Darurat. Namun sekitar 200 titik api masih terpantau dan tim gabungan terus dikerahkan.

Situasi tersebut memperlihatkan sebuah hubungan sebab-akibat yang harus diperhatikan secara serius.

Semakin kering vegetasi, semakin mudah terbakar. Semakin sedikit hujan, semakin sulit proses pemadaman. Semakin lama api menyala, semakin besar pula kebutuhan air.

Di titik inilah karhutla Kalimantan tidak dapat dipisahkan dari persoalan kekeringan.

Kalimantan Tengah Juga Menghadapi Musim Kemarau Kering

Tekanan serupa juga terlihat di Kalimantan Tengah.

Dokumen prediksi musim kemarau BMKG untuk Kalimantan Tengah menunjukkan sebagian besar wilayah provinsi tersebut diprediksi mengalami sifat musim kemarau Bawah Normal, atau lebih kering dari biasanya. Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi terjadi pada Agustus 2026.

Data pemantauan HTH dari BMKG Kalimantan Tengah juga menunjukkan adanya wilayah yang mengalami periode tanpa hujan sangat panjang, terutama di bagian selatan provinsi tersebut.

Kondisi seperti ini mempunyai konsekuensi berlapis.

Pertama, cadangan air permukaan dapat menurun.

Kedua, kebutuhan air masyarakat dapat meningkat.

Ketiga, sektor pertanian menghadapi tekanan.

Keempat, lahan gambut dan vegetasi menjadi semakin mudah terbakar ketika kehilangan kelembapan.

Karena itu, pembahasan mengenai karhutla seharusnya tidak hanya berorientasi pada pemadaman api. Manajemen air harus menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla.

Kalimantan Barat: Asap dan Kekeringan Bertemu

Kalimantan Barat juga berada dalam radar kewaspadaan.

Pada awal Agustus, BMKG menyebut kondisi kering berlanjut di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan bagian selatan. Periode tanpa hujan yang panjang dapat mengurangi ketersediaan air sekaligus meningkatkan kerentanan lahan dan vegetasi terhadap kebakaran. BMKG juga telah mendeteksi sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Bahkan, arah pergerakan asap dari Kalimantan Barat disebut berpotensi menuju Sarawak, Malaysia. Kondisi inilah yang kemudian memperlihatkan bahwa masalah ekologis di Kalimantan dapat berubah menjadi persoalan lintas batas.

Persoalannya menjadi semakin kompleks ketika kekeringan dan karhutla berlangsung bersamaan.

Kekeringan memperbesar risiko kebakaran, sementara kebakaran memperburuk kualitas lingkungan.

Kekeringan Kalimantan Mengintai Karhutla Kalimantan: Penanganan karhutla Kalimantan tidak cukup hanya dengan water bombing dan pemadaman darat. Pemerintah juga harus mengantisipasi dampak kekeringan terhadap cadangan air dan ketahanan masyarakat.

El Niño Bukan Satu-Satunya Jawaban

El Niño memang menjadi faktor penting dalam kondisi kering tahun ini. Namun menjadikan El Niño sebagai satu-satunya penjelasan akan membuat persoalan menjadi terlalu sederhana.

Kondisi cuaca dapat meningkatkan kerentanan, tetapi keberadaan api tetap berkaitan dengan aktivitas manusia, kondisi lahan, pengelolaan kawasan, serta efektivitas pencegahan dan pengawasan.

Karena itu, ketika BMKG menyebut El Niño 2026 berpotensi sangat kuat, respons pemerintah seharusnya tidak berhenti pada operasi pemadaman.

BMKG sebelumnya telah memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau lebih kering dari kondisi normal. Sebanyak 437 Zona Musim atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia diperkirakan menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang. Curah hujan tinggi diproyeksikan mulai muncul secara bertahap pada Oktober–November 2026.

Artinya, pemerintah masih memiliki pekerjaan besar selama periode kering berlangsung.

OMC Bukan Solusi Tunggal

Pemerintah kini menggunakan OMC sebagai salah satu instrumen untuk menghadapi persoalan tersebut.

Di Kalimantan Timur, BMKG bersama OIKN, TNI AU, BNPB dan pemerintah daerah melaksanakan OMC pada 22–27 Agustus untuk membantu mengatasi penurunan cadangan air Waduk Sepaku. OMC juga dilakukan di Kabupaten Berau pada 24–28 Agustus berdasarkan permintaan pemerintah daerah untuk membantu menangani titik panas.

Namun BMKG menegaskan bahwa OMC bukan menciptakan hujan dari kondisi tanpa awan. Teknologi tersebut bekerja dengan mengoptimalkan potensi awan yang tersedia sehingga proses hujan dapat dipercepat atau areanya diperluas apabila kondisi atmosfer mendukung.

Karena itu, OMC sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu instrumen mitigasi, bukan sebagai pengganti kebijakan konservasi air, pencegahan kebakaran, pengelolaan lahan, dan penegakan hukum.

BNPB Memperkuat Operasi, Tetapi Tantangan Tetap Besar

BNPB pada 24 Agustus melaporkan penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan terus diperkuat melalui operasi darat, operasi udara, pemantauan hotspot, dan OMC.

Di Kalimantan Barat, operasi water bombing pada 23 Agustus dilakukan dengan empat unit dan delapan sortie, dengan total 223 kali penjatuhan air atau sekitar 1,052 juta liter. Operasi darat juga dilakukan dengan potensi pengerahan sekitar 2.751 personel.

Di Kalimantan Tengah, tiga helikopter water bombing melakukan 159 kali penjatuhan air, sementara satgas darat telah menangani sekitar 55,63 hektare lahan hingga 23 Agustus. Operasi tersebut didukung sekitar 10.700 personel gabungan.

Sementara di Kalimantan Selatan, dua helikopter water bombing melakukan 243 kali penjatuhan air dengan volume sekitar 1,029 juta liter dan menangani sekitar 13 hektare lahan.

Besarnya operasi tersebut justru memperlihatkan betapa mahalnya konsekuensi ketika pencegahan gagal dilakukan sejak awal.

Ancaman yang Tidak Boleh Menunggu Sampai Sumur Mengering

Bahaya kekeringan Kalimantan memiliki karakter berbeda dibandingkan karhutla.

Api memaksa pemerintah bertindak cepat karena terlihat secara kasatmata. Kekeringan tidak selalu demikian dan berkembang perlahan.

  • Sumur mulai berkurang debitnya.
  • Sungai mengalami penurunan muka air.
  • Waduk kehilangan cadangan.
  • Petani mulai kesulitan mendapatkan air.

Kemudian, ketika kondisi mencapai titik tertentu, pemerintah baru menghadapi persoalan distribusi air bersih.

Karena itu, indikator kekeringan meteorologis, Hari Tanpa Hujan, tinggi muka air waduk, debit sungai, kelembapan tanah, dan kebutuhan air masyarakat seharusnya menjadi satu sistem peringatan dini yang terintegrasi.

Jika indikator-indikator tersebut dibaca bersama data hotspot, pemerintah dapat menentukan wilayah mana yang harus menjadi prioritas sebelum api membesar.

Redaksi: Jangan Menunggu Kalimantan Kehabisan Air

Kalimantan sedang menghadapi situasi yang tidak boleh dibaca hanya melalui gambar asap dan titik api.

Di satu sisi ada karhutla Kalimantan yang mengancam hutan, lahan gambut, kesehatan masyarakat dan bahkan telah menimbulkan dampak lintas batas.

Di sisi lain terdapat kekeringan Kalimantan yang perlahan menekan ketersediaan air.

Keduanya saling berhubungan.

Data BMKG terbaru menunjukkan sebagian besar Kalimantan berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai terhadap kekeringan meteorologis, sementara Kalimantan Timur menghadapi HTH hingga 28 hari di sejumlah lokasi dan penurunan cadangan air Waduk Sepaku.

Karena itu, respons pemerintah seharusnya tidak hanya dihitung dari berapa banyak hektare yang berhasil dipadamkan atau berapa juta liter air yang dijatuhkan dari udara.

Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah: berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah, berapa banyak cadangan air yang berhasil dipertahankan, dan berapa banyak masyarakat yang tidak sampai mengalami krisis air.

Jika kemarau diprediksi berlangsung lebih kering dan panjang, maka kebijakan tidak boleh menunggu sampai sumur mengering dan api membesar.

Kalimantan membutuhkan strategi menghadapi kekeringan sekaligus karhutla—karena pada musim seperti sekarang, keduanya bukan dua persoalan yang terpisah, melainkan dua sisi dari satu ancaman ekologis.