Auto refresh 30 detik

Ekonomi

Batu Bara Jadi BBM, Kalimantan Disiapkan Jadi Basis Produksi: Hilirisasi atau Babak Baru Energi?

Selasa, 29 September 2026 19:45
Editor Utama
983 views
Gambar Batu Bara Jadi BBM, Kalimantan Disiapkan Jadi Basis Produksi: Hilirisasi atau Babak Baru Energi? - batu bara jadi b...
Gambar Batu Bara Jadi BBM, Kalimantan Disiapkan Jadi Basis Produksi: Hilirisasi atau Babak Baru Energi? - batu bara jadi b...

JAKARTA, TEROPONGKALIMANTAN.COM – Pemerintah kembali mendorong hilirisasi batu bara berkalori rendah. Kali ini, Kalimantan dan Sumatera Selatan disiapkan sebagai basis pengembangan fasilitas pengolahan batu bara menjadi produk yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan fasilitas produksi untuk mengolah batu bara kalori rendah. Wilayah dengan cadangan batu bara besar menjadi sasaran utama karena bahan baku tersedia dalam jumlah relatif melimpah.

“Jadi ada beberapa yang di Kalimantan Timur itu sudah mulai kita dorong untuk kegiatannya, ada juga yang di Sumatera Selatan atau daerah-daerah yang potensi batu baranya cukup besar,” kata Yuliot saat ditemui di TMP Kalibata, Selasa (29/9/2026).

Pernyataan tersebut menempatkan batu bara jadi BBM sebagai salah satu agenda baru dalam rantai hilirisasi energi nasional. Namun, ada satu detail penting yang perlu diperjelas: proyek yang sudah memiliki pijakan konkret di Kalimantan Timur saat ini bukanlah kilang yang langsung menghasilkan bensin atau solar dari batu bara, melainkan gasifikasi batu bara menjadi metanol.

Batu Bara Jadi BBM Kalimantan Timur Mulai dari Metanol

Kementerian ESDM sebelumnya telah melakukan groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batubara menjadi Metanol di Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Proyek tersebut dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Menurut Kementerian ESDM, proyek ini dirancang mengolah sekitar 7,70–7,78 juta ton batu bara berkalori sekitar 3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol. Kapasitas produksinya ditargetkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun.

Kementerian ESDM menyebut proyek tersebut berpotensi menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun karena Indonesia masih membutuhkan impor metanol untuk memenuhi kebutuhan industri. Proyek ini juga ditargetkan memasuki tahap commissioning pada 2029.

Dengan demikian, arah kebijakan pemerintah sebenarnya memiliki dua lapis. Pertama, memanfaatkan batu bara berkalori rendah yang selama ini memiliki nilai ekonomi relatif lebih rendah. Kedua, mengubahnya menjadi produk antara bernilai tambah, seperti metanol, yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan industri.

Metanol sendiri bukan bensin atau solar. Tetapi, pemerintah telah lama mengkaji pemanfaatan metanol sebagai bagian dari bahan bakar campuran. Kementerian ESDM sebelumnya pernah menjelaskan pengembangan bahan bakar berbasis campuran bensin, metanol dan etanol.

Artinya, ketika pemerintah menyebut pengolahan batu bara menjadi BBM, rantai teknologinya perlu dilihat secara utuh: batu bara → gasifikasi → syngas → metanol → pemanfaatan lebih lanjut, termasuk potensi sebagai komponen campuran bahan bakar.

Hilirisasi Batu Bara Kalimantan Bukan Sekadar Soal Tambang

Langkah pemerintah ini sekaligus memperlihatkan perubahan arah pemanfaatan batu bara.

Selama ini batu bara identik dengan komoditas tambang yang dijual untuk kebutuhan pembangkit listrik maupun pasar ekspor. Dengan gasifikasi, pemerintah ingin sebagian batu bara berkalori rendah masuk ke industri pengolahan sehingga nilai tambahnya diperoleh di dalam negeri.

Kementerian ESDM menyatakan fasilitas di Bengalon tidak hanya terdiri dari unit gasifikasi. Proyek tersebut juga mencakup reaktor sintesis, pembangkit listrik, fasilitas pengolahan air dan terminal pelabuhan. Teknologi pengendalian emisi serta Carbon Capture and Storage (CCS) juga disiapkan dalam proyek tersebut.

Di titik inilah proyek batu bara jadi BBM atau produk turunannya mulai bersinggungan dengan persoalan yang lebih besar: seberapa besar nilai tambah yang benar-benar tinggal di daerah penghasil batu bara?

Kalimantan memiliki sumber daya batu bara yang besar, tetapi selama puluhan tahun sebagian besar rantai ekonominya masih bertumpu pada aktivitas ekstraksi. Pembangunan fasilitas pengolahan dapat mengubah struktur tersebut apabila industri turunannya benar-benar berkembang di sekitar sumber bahan baku.

Namun, hilirisasi juga membawa kebutuhan baru: listrik, air industri, pelabuhan, jaringan transportasi, tenaga kerja terampil, pengelolaan limbah, serta sistem pengendalian emisi.

Karena itu, keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari berdirinya fasilitas produksi.

Sumatera Selatan Ikut Dibidik

Selain Kalimantan Timur, pemerintah juga menyebut Sumatera Selatan sebagai wilayah yang potensial dikembangkan.

Pertimbangannya serupa, yakni ketersediaan batu bara berkalori rendah dalam jumlah besar.

Sebelumnya, Kementerian ESDM juga telah memasukkan sejumlah wilayah di Sumatera Selatan dan Kalimantan dalam peta pengembangan hilirisasi batu bara. Dalam kebijakan sebelumnya, pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah bahkan diarahkan antara lain ke Muara Enim dan Ogan Komering Ilir di Sumatera Selatan, serta Tanah Bumbu dan Kutai Timur di Kalimantan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak lagi hanya melihat batu bara sebagai sumber energi primer. Batu bara mulai ditempatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk kimia dan energi lain.

Persoalannya, teknologi gasifikasi membutuhkan investasi besar dan infrastruktur yang kompleks.

Pengalaman Indonesia dengan proyek hilirisasi batu bara sebelumnya juga memperlihatkan bahwa persoalan keekonomian, kepastian regulasi, harga bahan baku, insentif serta kepastian pasar menjadi faktor penting.

Kementerian ESDM sendiri dalam pengembangan gasifikasi batu bara untuk DME sebelumnya mencatat kebutuhan dukungan regulasi dan insentif agar proyek dapat berjalan secara komersial.

Batu Bara Jadi BBM dan Pertanyaan Besarnya

Pemerintah kini menghadapi tantangan ganda.

Di satu sisi, Indonesia ingin mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM dan produk petrokimia. Di sisi lain, Indonesia juga tengah memperluas pemanfaatan energi terbarukan dan bahan bakar nabati.

Kementerian ESDM pada September 2026 menyebut kebutuhan bensin nasional berada di kisaran 40 juta kiloliter per tahun. Kapasitas produksi dalam negeri masih berada di bawah kebutuhan tersebut sehingga impor tetap diperlukan.

Dalam konteks itu, diversifikasi sumber bahan baku energi menjadi salah satu opsi yang sedang dikembangkan pemerintah.

Namun, pertanyaan berikutnya bukan hanya berapa banyak batu bara yang dapat diubah menjadi produk bahan bakar, melainkan berapa biaya produksinya, berapa besar energi yang dibutuhkan selama proses, bagaimana emisinya dihitung dari hulu sampai hilir, serta apakah produk akhirnya mampu bersaing dengan BBM konvensional maupun bahan bakar alternatif.

Khusus bagi Kalimantan, pertanyaan lain juga tidak kalah penting.

Apakah hilirisasi batu bara akan menciptakan rantai industri baru yang lebih panjang di daerah penghasil, atau justru memperbesar konsumsi sumber daya tanpa mengubah struktur ekonomi daerah?

Proyek Bengalon memberikan titik awal untuk melihat jawabannya.

Dengan target produksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan target commissioning 2029, proyek tersebut akan menjadi salah satu ujian penting bagi agenda hilirisasi batu bara Indonesia.

Jika berhasil, Kalimantan Timur tidak hanya menjadi wilayah produksi batu bara, tetapi juga salah satu pusat pengolahan batu bara menjadi bahan baku industri dan energi.

Jika tidak, proyek gasifikasi berbiaya tinggi berisiko kembali menjadi contoh bahwa hilirisasi sumber daya alam tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas produksi.

Pada akhirnya, batu bara jadi BBM bukan semata persoalan mengubah satu bentuk energi menjadi bentuk lain. Ini adalah pertaruhan tentang bagaimana Indonesia mengubah kekayaan tambang menjadi nilai tambah, seberapa besar manfaatnya kembali ke daerah, dan seberapa efisien teknologi tersebut dalam menjawab kebutuhan energi nasional.

Kalimantan kini berada di salah satu titik penting dalam agenda tersebut.

Sumber: Kementerian ESDM dan sumber terbuka terkait kebijakan hilirisasi batu bara.

keyword: Batu Bara Jadi BBM Kalimantan