Auto refresh 30 detik

Lingkungan Hidup

Tak Kuat Menahan Asap Karhutla di Kalbar, Orangutan Jantan Bernama Sampurna Meregang Nyawa

Jumat, 04 September 2026 22:13
Editor Utama
455 views
Gambar Tak Kuat Menahan Asap Karhutla di Kalbar, Orangutan Jantan Bernama Sampurna Meregang Nyawa - asap karhutla kalbar s...
Gambar Tak Kuat Menahan Asap Karhutla di Kalbar, Orangutan Jantan Bernama Sampurna Meregang Nyawa - asap karhutla kalbar s...

KETAPANG — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kembali meninggalkan kisah pilu. Kali ini, bukan hanya manusia yang harus berhadapan dengan buruknya kualitas udara. Seekor orangutan jantan dewasa bernama Sampurna akhirnya meregang nyawa setelah ditemukan dalam kondisi kritis di Kabupaten Ketapang asap karhutla kalbar sampurna orangutan.

Kematian Sampurna menjadi gambaran lain dari dampak karhutla yang kerap diukur melalui luas lahan terbakar, jumlah titik panas, maupun sebaran kabut asap. Di balik angka-angka tersebut terdapat satwa liar yang kehilangan habitat, mengalami gangguan pernapasan, bahkan tidak mampu bertahan hidup asap karhutla kalbar sampurna orangutan.

Berdasarkan keterangan resmi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat melalui Kementerian Kehutanan, Sampurna ditemukan masyarakat pada Minggu, 30 Agustus 2026, sekitar pukul 07.00 WIB. Lokasinya berada di dalam parit kering kawasan perkebunan kelapa sawit milik warga di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.

Tak Kuat Menahan Asap Karhutla di Kalbar, Orangutan Jantan Bernama Sampurna Meregang Nyawa.

Saat ditemukan, kondisi orangutan tersebut sudah sangat lemah. Sampurna tidak mampu berdiri dan hanya dapat bergerak secara terbatas. Gangguan pernapasan juga terlihat jelas sehingga masyarakat kemudian melaporkannya kepada petugas.

Laporan warga menjadi pintu masuk penyelamatan. Tim BKSDA Kalbar bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) bergerak menuju lokasi untuk mengevakuasi satwa dilindungi tersebut.

Ditemukan Kritis di Tengah Kepungan Asap

Tim memberikan pertolongan pertama berupa terapi oksigen dan cairan intravena. Setelah mendapatkan penanganan awal, Sampurna kemudian dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Namun kondisi satwa tersebut terus mengalami penurunan.

Sekitar pukul 14.00 WIB, pernapasan Sampurna semakin dangkal. Saturasi oksigennya bahkan tidak lagi terdeteksi. Ketika menunjukkan tanda-tanda henti napas, tim medis melakukan tindakan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR).

Upaya tersebut tidak berhasil.

Sampurna akhirnya dinyatakan mati sekitar pukul 15.20 WIB pada hari yang sama. Dengan demikian, hanya beberapa jam sejak ditemukan warga dalam kondisi kritis, perjuangan orangutan jantan tersebut berakhir.

Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap satwa tidak selalu terlihat dalam bentuk luka bakar.

Sampurna tidak ditemukan dengan tubuh terbakar. Ancaman yang diduga paling serius justru datang dari udara yang dihirupnya.

Nekropsi Ungkap Masalah pada Paru-paru

Untuk mengetahui kondisi kesehatan dan faktor yang berkontribusi terhadap kematian Sampurna, tim medis melakukan nekropsi pada 1 September 2026.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. Pada paru-paru ditemukan kongesti serta atelektasis parsial, terutama pada bagian kaudoventral kedua lobus paru-paru.

Menurut keterangan Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane, berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan tersebut, perubahan patologis pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap.

Paparan tersebut berpotensi mengganggu fungsi paru-paru dan menyebabkan hipoksia akut atau kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen. Kondisi itu kemudian diduga berkontribusi terhadap gangguan fungsi kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sampurna.

Tak Kuat Menahan Asap Karhutla di Kalbar, Orangutan Jantan Bernama Sampurna Meregang Nyawa.

Penting untuk dicatat, hasil pemeriksaan tersebut menggunakan istilah “diduga” dalam menghubungkan perubahan patologis dengan paparan asap. Artinya, laporan ini tidak boleh diterjemahkan secara serampangan sebagai klaim bahwa seluruh penyebab kematian telah dibuktikan hanya berasal dari asap karhutla.

Namun, rangkaian fakta klinis yang tersedia menunjukkan adanya hubungan yang perlu menjadi perhatian serius: Sampurna ditemukan dalam kondisi gangguan pernapasan di tengah situasi karhutla, mengalami penurunan saturasi oksigen, kemudian meninggal, dan hasil nekropsi menunjukkan perubahan patologis pada paru-parunya.

Ketika Asap Menjadi Ancaman bagi Satwa Liar

Kasus Sampurna memperlihatkan dimensi lain dari bencana ekologis karhutla.

Bagi satwa liar seperti orangutan, kebakaran tidak hanya berarti ancaman api. Hilangnya tutupan hutan, terganggunya sumber makanan, fragmentasi habitat, perpindahan satwa ke kawasan perkebunan, hingga paparan asap dalam waktu panjang dapat menciptakan rangkaian tekanan yang kompleks.

Sebelumnya, BKSDA Kalbar dan YIARI juga telah mengevakuasi sejumlah orangutan yang terdampak karhutla di Ketapang. Data yang dihimpun Mongabay menyebut sepanjang Agustus 2026 terdapat tujuh individu orangutan yang dievakuasi di Kabupaten Ketapang akibat paparan asap karhutla.

Angka tersebut semestinya tidak sekadar menjadi statistik penyelamatan satwa.

Setiap orangutan yang keluar dari habitatnya dan ditemukan di kawasan perkebunan dapat menjadi indikator bahwa kondisi ekologis di sekitarnya sedang mengalami tekanan.

Dalam perspektif jurnalistik lingkungan, kasus Sampurna juga memperlihatkan pentingnya memperluas cara melihat karhutla. Selama ini, pemberitaan sering berpusat pada manusia: sekolah diliburkan, masyarakat memakai masker, penerbangan terganggu, atau jarak pandang menurun.

Padahal, ekosistem juga menjadi korban.

Satwa yang tidak dapat berbicara harus bergantung pada laporan masyarakat, petugas konservasi, dokter hewan, dan organisasi penyelamatan satwa agar keberadaannya diketahui ketika berada dalam kondisi darurat.

Respons Warga Menjadi Kunci

Dalam kasus Sampurna, laporan masyarakat menjadi faktor penting. BKSDA Kalbar bahkan menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat ketika menemukan satwa liar dalam kondisi sakit, terluka, atau terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat juga diimbau tidak melakukan penanganan sendiri terhadap satwa liar yang ditemukan dalam kondisi darurat. Untuk wilayah Kabupaten Ketapang, BKSDA Kalbar menyediakan nomor kontak 08115776767 atau 08115670041 untuk pelaporan satwa yang membutuhkan pertolongan.

Pesan tersebut penting karena orangutan bukan satwa yang aman ditangani sembarangan. Satwa liar yang sedang sakit, stres, atau terdesak dapat menunjukkan perilaku yang sulit diprediksi.

Sampurna dan Alarm Ekologis Kalimantan Barat

Kematian Sampurna seharusnya tidak berhenti sebagai berita duka tentang seekor orangutan yang gagal diselamatkan.

Kasus ini merupakan alarm bahwa karhutla memiliki rantai dampak yang jauh lebih panjang dibandingkan apa yang terlihat dari permukaan.

Api mungkin membakar lahan dalam hitungan jam atau hari. Tetapi dampaknya terhadap habitat, satwa, kualitas udara, kesehatan ekosistem, dan keseimbangan lingkungan dapat berlangsung jauh lebih lama.

Sampurna ditemukan bukan di tengah hutan yang tenang, melainkan di kawasan perkebunan masyarakat. Kondisi tersebut kembali mengingatkan bahwa batas antara habitat satwa dan ruang aktivitas manusia semakin penting untuk diperhatikan ketika terjadi tekanan ekologis.

Redaksi Teropong Kalimantan menilai kasus ini layak menjadi momentum untuk memperkuat pemantauan satwa liar di wilayah rawan karhutla, terutama kawasan yang berdekatan dengan habitat orangutan.

Sebab ketika seekor orangutan sudah ditemukan terkapar akibat gangguan pernapasan, pertanyaan yang lebih besar bukan lagi sekadar mengapa Sampurna mati?

Pertanyaannya adalah: berapa banyak satwa lain yang saat ini masih bertahan di balik kepungan asap, tetapi belum ditemukan?

Dan ketika asap akhirnya menghilang, apakah habitat mereka masih cukup untuk membuat mereka kembali pulang?