Auto refresh 30 detik

Lingkungan Hidup

Krisis Air Bersih Mengintai Kalimantan di Tengah Cuaca Ekstrem

26 Jul 2026, 20:07
Editor Utama
428 views
Gambar Krisis Air Bersih Mengintai Kalimantan di Tengah Cuaca Ekstrem - krisis air bersih kalimantan mengintai
Gambar Krisis Air Bersih Mengintai Kalimantan di Tengah Cuaca Ekstrem - krisis air bersih kalimantan mengintai

TEROPONG KALIMANTAN โ€“ Ancaman krisis air bersih Kalimantan mulai menjadi perhatian serius di tengah perubahan pola cuaca dan musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Bagi Pulau Kalimantan yang selama ini dikenal sebagai "pulau dengan ribuan sungai", ancaman kekurangan air bersih menjadi paradoks yang semakin nyata akibat kombinasi faktor iklim, degradasi lingkungan, dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumber air permukaan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam pembaruan prediksi musim kemarau Juni 2026 memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal. BMKG juga memperkirakan peluang terjadinya El Niรฑo lemah meningkat sepanjang 2026, yang berpotensi memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah.

Sungai Besar Tak Lagi Menjamin Ketersediaan Air

Sebagian besar kota di Kalimantan bergantung pada sungai sebagai sumber air baku, mulai dari Sungai Kapuas, Mahakam, Barito hingga Kahayan.

Ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang, debit sungai cenderung menurun. Kondisi tersebut bukan hanya mengurangi pasokan air baku bagi perusahaan daerah air minum (PDAM), tetapi juga meningkatkan intrusi air laut di wilayah hilir serta memperburuk kualitas air akibat konsentrasi sedimen dan pencemar yang meningkat.

Di Kalimantan Tengah, BPBD Kotawaringin Timur telah mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi memicu penurunan debit Sungai Mentaya, mengeringnya sumur warga, meningkatnya risiko krisis air bersih, serta bertambahnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Cuaca Ekstrem Memperbesar Risiko

Fenomena cuaca ekstrem di Kalimantan kini tidak hanya ditandai oleh kemarau panjang, tetapi juga perubahan pola hujan yang sulit diprediksi.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai wilayah mengalami hujan sangat lebat dalam waktu singkat yang memicu banjir, kemudian diikuti periode kering berkepanjangan. Pola ini menyebabkan kemampuan daerah tangkapan air menyimpan cadangan air semakin berkurang.

Para ahli iklim juga mencatat bahwa variabilitas atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dapat memperkuat atau melemahkan peluang hujan ekstrem di Indonesia, sehingga distribusi hujan menjadi semakin tidak merata.

Ancaman Berbeda di Setiap Provinsi Kalimantan

Setiap provinsi di Kalimantan menghadapi tantangan yang berbeda.

Kalimantan Barat menghadapi tekanan terhadap DAS Kapuas akibat perubahan tutupan lahan, pertumbuhan permukiman, serta ancaman kebakaran lahan gambut pada musim kering.

Kalimantan Tengah memiliki kawasan gambut yang luas. Ketika muka air gambut turun akibat kemarau panjang, risiko karhutla meningkat dan kualitas air permukaan dapat memburuk.

Kalimantan Selatan kerap menghadapi kontras antara banjir saat musim hujan dan kekeringan di sejumlah wilayah ketika kemarau, terutama pada daerah yang bergantung pada sumber air dangkal.

Kalimantan Timur, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), menghadapi tantangan menjaga ketersediaan air baku di tengah pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan industri yang meningkat. Pengelolaan daerah aliran sungai dan waduk menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan air.

Sementara itu, Kalimantan Utara, khususnya wilayah perbatasan dan pedalaman, masih menghadapi keterbatasan jaringan distribusi air bersih sehingga masyarakat di beberapa daerah sangat bergantung pada mata air, sungai, dan penampungan air hujan.

Karhutla dan Krisis Air Saling Berkaitan

Musim kemarau di Kalimantan hampir selalu diikuti peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan.

Saat vegetasi mengering dan cadangan air menurun, lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar. Sebaliknya, kebakaran juga mempercepat degradasi daerah tangkapan air sehingga memperburuk kemampuan lingkungan menyimpan air pada musim berikutnya.

Hubungan timbal balik inilah yang menyebabkan krisis air bersih tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan distribusi air, melainkan juga bagian dari persoalan tata kelola lingkungan.

Perlu Antisipasi Sejak Dini

BNPB dalam berbagai laporannya mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 mulai meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah dan mengimbau pemerintah daerah memperkuat distribusi air bersih, menyiapkan penampungan air, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi karhutla.

Bagi Kalimantan, langkah antisipasi tidak cukup hanya mengandalkan distribusi air menggunakan mobil tangki. Pemerintah daerah perlu mempercepat rehabilitasi daerah aliran sungai, konservasi hutan dan gambut, pembangunan embung, perlindungan mata air, penguatan sistem penyediaan air minum, hingga edukasi masyarakat mengenai penghematan air.

Editorial Teropong Kalimantan

Krisis Air Bersih Kalimantan Mengintai Saat Kemarau Ekstrem bukan lagi ancaman masa depan, tetapi risiko yang mulai terlihat seiring meningkatnya anomali iklim dan tekanan terhadap lingkungan. Ironisnya, pulau yang dikenal memiliki sungai-sungai besar justru menghadapi potensi kesulitan memperoleh air layak apabila pengelolaan sumber daya air tidak dibenahi.

Ketahanan air harus ditempatkan sejajar dengan ketahanan pangan dan ketahanan energi sebagai agenda strategis pembangunan Kalimantan. Tanpa perlindungan daerah tangkapan air, pengendalian karhutla, dan pengelolaan sungai yang berkelanjutan, cuaca ekstrem diperkirakan akan terus memperbesar ancaman terhadap jutaan penduduk di seluruh Kalimantan.

Krisis Air Bersih Kalimantan Mengintai Saat Kemarau Ekstrem. Kalimat tersebut bukan sekadar judul, melainkan peringatan bahwa menjaga hutan, sungai, dan cadangan air hari ini merupakan investasi untuk menjamin keberlangsungan hidup masyarakat Kalimantan di masa depan.